Budidaya Ikan Hias Koi
PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS KOI (Cyprinus carpio) LOKAL
DI BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS DEPOK
Eni Kusrini, Sawung Cindelaras, dan Anjang Bangun Prasetio
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias
Jl. Perikanan No. 13, Pancoran Mas, Depok 16436
E-mail: ennyperikanan@yahoo.com
ABSTRAK
Salah satu komoditas ikan hias air tawar introduksi yang sampai saat ini masih menjadi primadona di pasar
internasional dan merupakan ikan hias kelompok mahal, serta fluktuasi di pasaranpun relatif stabil adalah ikan koi
(Cyprinus carpio). Komoditas ikan hias koi telah menjadi komoditas andalan di beberapa daerah seperti Sukabumi,
Cianjur, dan Blitar karena telah berhasil mengangkat perekonomi masyarakat dan menjadikannya sebagai alternatif
penghasilan selain padi. Guna mendukung produksi ikan hias koi di beberapa sentra yang ada, dilakukan penelitian
untuk mengembangkan budidaya secara intensif yang dilakukan pada lingkungan terkontrol melalui perbaikan
teknologi budidaya. Penelitian dilakukan skala lapang di BPPBIH dengan metode survai ke sentra produksi
untuk koleksi induk, pembenihan, dan pembesaran dengan menggunakan kolam tanah serta kolam beton untuk
pemijahan dan inkubasi telur. Hasil dari penelitian ini berupa data dan informasi teknik budidaya dan produksinya
yang dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi budidaya ikan hias koi.
KATA KUNCI: Cyprinus carpio, budidaya, produksi benih
ABSTRACT: Development of local koi (Cyprinus carpio) aquaculture at Institute of Research and Development
Ornamental Fish Culture. By: Eni Kusrini, Sawung Cindelaras, and Anjang Bangun Prasetio
Koi (Cyprinus carpio) is one of commodity freshwater fish introductions that primadona in the international market,
high price ornamental fish, and relatively stable market. Koi fish has become valuable commodity in some areas such as
Sukabumi, Cianjur, and Blitar because it contribute to economic society and also become alternative revenue in addition to
rice. To support koi fish production in some existing aquaculture centers, research to develop intensive cultivation is done
in a controlled environment and with improvement of cultivation technology. Research conducted at the field scale RDOFC
with the implementation of the research was a survey method of production centers for the collection of system, seed, and
magnification using concrete ground pools and ponds for spawning and incubation of eggs.
KEYWORDS: Cyprinus carpio, aquaculture, seed product
PENDAHULUAN
Salah satu keanekaragaman hayati yang dimiliki
Indonesia dan patut dibanggakan adalah keragaman
spesies ikan hias air tawar. Ikan hias air tawar
diperkirakan sekitar 400 spesies dari 1.100 spesies ikan
hias yang ada di seluruh dunia. Salah satu komoditas
ikan hias air tawar introduksi yang sampai saat ini
masih menjadi primadona di pasar internasional dan
merupakan ikan hias kelompok mahal, serta fluktuasi
di pasaranpun relatif stabil adalah ikan koi (Cyprinus
carpio).
Ikan hias koi atau nishikigoi sebagai salah satu ikan
hias yang banyak diminati karena keindahan bentuk
badan serta warnanya, dan dipercaya membawa
keuntungan oleh para pecinta koi di Indonesia. Jenis
ikan koi yang memiliki harga cukup baik dan stabil di
pasar dunia yaitu kohaku, taisho, sanshoku, showa,
shiro, utsuri, shusui, asagi, goromo, goshiki, bekko,
tancho, kinginrin, dan kawarimono (Anonim, 2010).
Potensi yang besar dari komoditas koi di Indonesia
sebagai salah satu komoditas ikan hias unggulan yang
cukup pesat belakangan ini, terutama pada beberapa
daerah seperti Sukabumi, Cianjur, Jakarta Barat, Blitar,
dan Makassar. Hal tersebut diduga karena budidaya
koi di Jepang yang merupakan negara pembudidaya
koi terbesar di dunia, mulai terkendala lahan sehingga
peluang budidaya di Indonesia masih cukup besar
untuk meraih potensi pasar yang terus meningkat.
Besarnya nilai transaksi dan perdagangan koi di
Indonesia membuat pemerintah melalui Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) berminat membangun
beberapa daerah sentra koi untuk menjadi daerah
Pengembangan budidaya ikan hias koi (Cyprinus carpio) lokal ..... (Eni Kusrini)
72
penghasil koi terbesar di tanah air melalui konsep
minapolitan. Dengan adanya kegiatan tersebut, KKP
mengembangkan potensi ikan hias nasional yang
diharapkan dapat meningkatkan kualitas koi lokal
yang dapat bersaing dengan koi impor baik di pasar
domestik maupun internasional.
Komoditas ikan hias koi telah menjadi komoditas
andalan di beberapa daerah seperti Sukabumi,
Cianjur, dan Blitar karena telah berhasil mengangkat
perekonomi masyarakat dan menjadikannya sebagai
alternatif penghasilan selain padi. Para petani maupun
pembudidaya koi di daerah tersebut terbentuk dalam
kelompok-kelompok tani sehingga hasil produksi
mereka tertata dengan baik meskipun cara budidaya
yang dilakukan selama ini masih secara tradisional.
Guna mendukung produksi koi di beberapa sentra
yang ada, penelitian untuk mengembangkan budidaya
secara intensif yang dilakukan pada lingkungan
terkontrol melalui perbaikan teknologi budidaya.
Pengembangan budidaya yang dilakukan berlokasi
di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan
Hias Depok, dengan pengambilan induk-induk dari
beberapa sentra produksi koi baik Sukabumi, Cianjur,
maupun Blitar. Pembenihan dilakukan secara alami,
semi-buatan, dan murni buatan yang diharapkan benih
yang dihasilkan akan mempunyai umur, ukuran yang
seragam. Selain itu, kualitas telur yang dihasilkan
juga lebih baik sehingga sintasan larvanya meningkat
dibandingkan dengan pemijahan alami yang sering
terkendala dengan pemeliharaan larva dengan sintasan
yang rendah.
Penelitian pengembangan budidaya ikan hias
koi yang dilakukan ini merupakan kegiatan sintesis
informasi yang berarti pemaduan berbagai informasi
dalam hal ini budidaya ikan koi, termasuk hasil
penelitian yang akan diperoleh, sehingga diperoleh
suatu kesimpulan yang selaras. Hal ini berarti
kegiatan utama ialah pengumpulan informasi secara
sistematis tentang budidaya ikan koi dan penarikan
kesimpulan logis dari informasi tersebut. Tujuan dari
penelitian ini yaitu mendapatkan data dan informasi
tentang peningkatan produksi ikan hias koi melalui
pengembangan budidayanya.
BAHAN DAN METODE
Penelitian pengembangan budidaya ikan hias
koi di BPPBIH dilakukan mulai dari persiapan kolam
pemeliharaan, pemijahan, inkubasi telur, pendederan,
dan pembesaran, yang meliputi kolam beton berukuran
2 m x 6 m disekat dengan waring, kolam tanah
berukuran 5 m x 6 m untuk pembesaran, bak beton
berukuran 2 m x 2 m untuk pemijahan dan inkubasi
telur dilakukan selama dua minggu. Kolam induk,
pendederan, dan pembesaran dilengkapi dengan
sirkulasi air deras (air tanah/pompa). Selanjutnya
pengadaan induk-induk dari beberapa sentra produksi
dan dibeli dari pembudidaya, serta dilakukan seleksi
kualitasnya, kemudian pengangkutan induk dari daerah
sentra produksi ke BPPBIH Depok dengan tansportasi
darat untuk diadaptasikan di kolam terkontrol selama
satu minggu.
Pemeliharaan induk di kolam beton berukuran
secara terpisah antara induk jantan dan betina. Pakan
yang diberikan berupa kombinasi pakan alami (cacing
tanah) dan pakan komersial secara berseling sehari
dua kali (pagi dan sore) secara ad libitum. Pelaksanaan
pembenihan alami, semi-buatan, dan buatan murni
dengan menggunakan induk 1:1, 1:2, dan 1:3, tergantung
kesiapan induk yang ada. Pembuahan berlangsung semibuatan, sehingga setelah penyuntikan hormon, induk
dipasangkan dalam kolam pemijahan dengan disertai
shelter (kakaban). Larva yang menetas diinkubasi selama
satu minggu di bak beton, selanjutnya ditebar di kolam
pendederan selama satu bulan (sampling I), pakan yang
diberikan berupa Tubifex sehari dua kali (ad libitum).
Setelah larva berumur satu bulan dipindahkan ke kolam
pembesaran (tanah) dengan pemberian pakan berupa
pelet.
Sampling akan dilakukan satu bulan sekali
untuk mengetahui pertumbuhnnya. Parameter yang
diamati fekunditas, hatching rate, sintasan larva dan
benih, pertambahan panjang dan bobot ikan, serta,
dengan kualitas air sebagai pendukung. Perhitungan
pertambahan biomassa dan laju pertambahan panjang
bulanan menggunakan rumus sebagai berikut (Matricia
et al., 1989):
dW = Wt – W0
dW = rataan pertumbuhan biomassa
Wt = biomassa rataan pada minggu kedelapan (g)
W0 = biomassa rataan pada awal penelitian (g)
Gi = [(Li(t2)-Lo)]/6
Gi = perubahan panjang/bobot per bulan
Lo = panjang/bobot awal percobaan
Li(t2) = panjang/bobot ikan ke-i pada minggu
kedelapan
HASIL DAN BAHASAN
Persiapan kolam untuk budidaya meliputi perbaikan
kolam tanah dan kolam beton, yang digunakan
untuk adaptasi induk sampai pembesaran (Gambar
1). Pengolahan kolam meliputi kolam tanah untuk
pendederan dan pembesaran serta kolam beton untuk
pemijahan dan inkubasi telur.
Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa pengolahan
kolam tanah mulai dari pengeringan dan pengedukan
ulang untuk perbaikan dasar kolam dan pematang.
Kolam tanah yang diperbaiki sebanyak 20 kolam.
Perbaikan kolam tanah dimulai dari pemupukan
dengan kotoran ayam untuk menumbuhkan pakan
alami yang nantinya berguna untuk pakan benih ikan
koi yang ditebar. Pengairan kolam tanah tersebut
Media Akuakultur Vol. 10 No. 2 Tahun 2015: 71-78
73
dengan menggunakan air tanah (pompa). Sedangkan
kolam beton berjumlah empat buah digunakan untuk
pemijahan dan inkubasi telur.
Induk diperoleh dari beberapa pembudidaya di
daerah Jawa Barat dan sekitarnya dan dari sentra produksi
di Kabupaten Blitar. Jumlah induk yang digunakan untuk
penelitian ini sebanyak 22 ekor rata-rata berukuran
panjang 35-45 cm dan bobot 1,5-2,5 kg. Induk-induk
tersebut terdiri atas beberapa strain yaitu showa, sanke,
kohaku, dan bekko dengan perbandingan sembilan ekor
jantan dan 13 ekor betina. Kondisi induk-induk tersebut
hampir semua telah mencapai TKG II dan III (Gambar 2).
Ukuran induk betina lebih besar dibandingkan dengan
induk jantan. Demikian juga dengan umur masing-masing
induk yang dikoleksi tersebut berkisar antara 1,5-2 tahun.
Kualitas induk lokal yang dikoleksi dari sentra
produksi tersebut adalah grade B berdasarkan seleksi
kecerahan warna, pola warna, penampilan tubuh, dan
kebugaran. Kualitas induk dari keempat strain tersebut
bervariasi, untuk strain showa pada grade yang sama
memiliki kualitas yang terbaik dari semua aspek, disusul
yang kedua adalah sanke, dan selanjutnya ogon. Untuk
strain kohaku memiliki kualitas yang paling rendah dari
ukuran dan warna.
Pemeliharaan induk pertama kali diadaptasikan
di kolam beton BPPBIH selama dua minggu untuk
mendapatkan kondisi yang stabil dan siap memijah.
Pada pemeliharaan selama satu minggu tersebut indukinduk yang diadaptasikan terserang argulus untuk
semua induk sebelum ditebar dan dipelihara di kolam
tanah. Penanganan serangan argulus tersebut dengan
perendaman PK dan garam untuk beberapa saat dan
selanjutnya dipindahkan sementara ke kolam lain
yang langsung terkena sinar matahari, serta dilakukan
penggantian air. Untuk seterusnya induk-induk
dipelihara pada kolam tanah berukuran 5 m x 6 m.
Pakan yang diberikan untuk induk-induk adalah
pelet komersial, dan untuk mempercepat kematangan
gonad diseling dengan pakan alami yaitu cacing tanah.
Pemberian pakan untuk induk dua kali sehari secara
ad libitum. Komposisi pakan buatan (pelet komersial)
dapat dilihat pada Tabel 1.
Pemeliharaan induk dilakukan bertujuan untuk
melakukan seleksi dan untuk mematangkan gonad
agar ikan siap untuk dipijahkan dan diharapkan
menghasilkan keturunan yang diinginkan. Induk
dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina
untuk menghindari pemijahan massal.
Gambar 2. Induk-induk ikan koi lokal yang dikoleksi dan digunakan untuk pembenihan
(1, 5, 13 = Kohaku; 2, 4, 5, 6, 7, 8, 13, 14 = showa; 3 = bekko; 10, 11, 12 =
sanke)
DI BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS DEPOK
Eni Kusrini, Sawung Cindelaras, dan Anjang Bangun Prasetio
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias
Jl. Perikanan No. 13, Pancoran Mas, Depok 16436
E-mail: ennyperikanan@yahoo.com
ABSTRAK
Salah satu komoditas ikan hias air tawar introduksi yang sampai saat ini masih menjadi primadona di pasar
internasional dan merupakan ikan hias kelompok mahal, serta fluktuasi di pasaranpun relatif stabil adalah ikan koi
(Cyprinus carpio). Komoditas ikan hias koi telah menjadi komoditas andalan di beberapa daerah seperti Sukabumi,
Cianjur, dan Blitar karena telah berhasil mengangkat perekonomi masyarakat dan menjadikannya sebagai alternatif
penghasilan selain padi. Guna mendukung produksi ikan hias koi di beberapa sentra yang ada, dilakukan penelitian
untuk mengembangkan budidaya secara intensif yang dilakukan pada lingkungan terkontrol melalui perbaikan
teknologi budidaya. Penelitian dilakukan skala lapang di BPPBIH dengan metode survai ke sentra produksi
untuk koleksi induk, pembenihan, dan pembesaran dengan menggunakan kolam tanah serta kolam beton untuk
pemijahan dan inkubasi telur. Hasil dari penelitian ini berupa data dan informasi teknik budidaya dan produksinya
yang dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi budidaya ikan hias koi.
KATA KUNCI: Cyprinus carpio, budidaya, produksi benih
ABSTRACT: Development of local koi (Cyprinus carpio) aquaculture at Institute of Research and Development
Ornamental Fish Culture. By: Eni Kusrini, Sawung Cindelaras, and Anjang Bangun Prasetio
Koi (Cyprinus carpio) is one of commodity freshwater fish introductions that primadona in the international market,
high price ornamental fish, and relatively stable market. Koi fish has become valuable commodity in some areas such as
Sukabumi, Cianjur, and Blitar because it contribute to economic society and also become alternative revenue in addition to
rice. To support koi fish production in some existing aquaculture centers, research to develop intensive cultivation is done
in a controlled environment and with improvement of cultivation technology. Research conducted at the field scale RDOFC
with the implementation of the research was a survey method of production centers for the collection of system, seed, and
magnification using concrete ground pools and ponds for spawning and incubation of eggs.
KEYWORDS: Cyprinus carpio, aquaculture, seed product
PENDAHULUAN
Salah satu keanekaragaman hayati yang dimiliki
Indonesia dan patut dibanggakan adalah keragaman
spesies ikan hias air tawar. Ikan hias air tawar
diperkirakan sekitar 400 spesies dari 1.100 spesies ikan
hias yang ada di seluruh dunia. Salah satu komoditas
ikan hias air tawar introduksi yang sampai saat ini
masih menjadi primadona di pasar internasional dan
merupakan ikan hias kelompok mahal, serta fluktuasi
di pasaranpun relatif stabil adalah ikan koi (Cyprinus
carpio).
Ikan hias koi atau nishikigoi sebagai salah satu ikan
hias yang banyak diminati karena keindahan bentuk
badan serta warnanya, dan dipercaya membawa
keuntungan oleh para pecinta koi di Indonesia. Jenis
ikan koi yang memiliki harga cukup baik dan stabil di
pasar dunia yaitu kohaku, taisho, sanshoku, showa,
shiro, utsuri, shusui, asagi, goromo, goshiki, bekko,
tancho, kinginrin, dan kawarimono (Anonim, 2010).
Potensi yang besar dari komoditas koi di Indonesia
sebagai salah satu komoditas ikan hias unggulan yang
cukup pesat belakangan ini, terutama pada beberapa
daerah seperti Sukabumi, Cianjur, Jakarta Barat, Blitar,
dan Makassar. Hal tersebut diduga karena budidaya
koi di Jepang yang merupakan negara pembudidaya
koi terbesar di dunia, mulai terkendala lahan sehingga
peluang budidaya di Indonesia masih cukup besar
untuk meraih potensi pasar yang terus meningkat.
Besarnya nilai transaksi dan perdagangan koi di
Indonesia membuat pemerintah melalui Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) berminat membangun
beberapa daerah sentra koi untuk menjadi daerah
Pengembangan budidaya ikan hias koi (Cyprinus carpio) lokal ..... (Eni Kusrini)
72
penghasil koi terbesar di tanah air melalui konsep
minapolitan. Dengan adanya kegiatan tersebut, KKP
mengembangkan potensi ikan hias nasional yang
diharapkan dapat meningkatkan kualitas koi lokal
yang dapat bersaing dengan koi impor baik di pasar
domestik maupun internasional.
Komoditas ikan hias koi telah menjadi komoditas
andalan di beberapa daerah seperti Sukabumi,
Cianjur, dan Blitar karena telah berhasil mengangkat
perekonomi masyarakat dan menjadikannya sebagai
alternatif penghasilan selain padi. Para petani maupun
pembudidaya koi di daerah tersebut terbentuk dalam
kelompok-kelompok tani sehingga hasil produksi
mereka tertata dengan baik meskipun cara budidaya
yang dilakukan selama ini masih secara tradisional.
Guna mendukung produksi koi di beberapa sentra
yang ada, penelitian untuk mengembangkan budidaya
secara intensif yang dilakukan pada lingkungan
terkontrol melalui perbaikan teknologi budidaya.
Pengembangan budidaya yang dilakukan berlokasi
di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan
Hias Depok, dengan pengambilan induk-induk dari
beberapa sentra produksi koi baik Sukabumi, Cianjur,
maupun Blitar. Pembenihan dilakukan secara alami,
semi-buatan, dan murni buatan yang diharapkan benih
yang dihasilkan akan mempunyai umur, ukuran yang
seragam. Selain itu, kualitas telur yang dihasilkan
juga lebih baik sehingga sintasan larvanya meningkat
dibandingkan dengan pemijahan alami yang sering
terkendala dengan pemeliharaan larva dengan sintasan
yang rendah.
Penelitian pengembangan budidaya ikan hias
koi yang dilakukan ini merupakan kegiatan sintesis
informasi yang berarti pemaduan berbagai informasi
dalam hal ini budidaya ikan koi, termasuk hasil
penelitian yang akan diperoleh, sehingga diperoleh
suatu kesimpulan yang selaras. Hal ini berarti
kegiatan utama ialah pengumpulan informasi secara
sistematis tentang budidaya ikan koi dan penarikan
kesimpulan logis dari informasi tersebut. Tujuan dari
penelitian ini yaitu mendapatkan data dan informasi
tentang peningkatan produksi ikan hias koi melalui
pengembangan budidayanya.
BAHAN DAN METODE
Penelitian pengembangan budidaya ikan hias
koi di BPPBIH dilakukan mulai dari persiapan kolam
pemeliharaan, pemijahan, inkubasi telur, pendederan,
dan pembesaran, yang meliputi kolam beton berukuran
2 m x 6 m disekat dengan waring, kolam tanah
berukuran 5 m x 6 m untuk pembesaran, bak beton
berukuran 2 m x 2 m untuk pemijahan dan inkubasi
telur dilakukan selama dua minggu. Kolam induk,
pendederan, dan pembesaran dilengkapi dengan
sirkulasi air deras (air tanah/pompa). Selanjutnya
pengadaan induk-induk dari beberapa sentra produksi
dan dibeli dari pembudidaya, serta dilakukan seleksi
kualitasnya, kemudian pengangkutan induk dari daerah
sentra produksi ke BPPBIH Depok dengan tansportasi
darat untuk diadaptasikan di kolam terkontrol selama
satu minggu.
Pemeliharaan induk di kolam beton berukuran
secara terpisah antara induk jantan dan betina. Pakan
yang diberikan berupa kombinasi pakan alami (cacing
tanah) dan pakan komersial secara berseling sehari
dua kali (pagi dan sore) secara ad libitum. Pelaksanaan
pembenihan alami, semi-buatan, dan buatan murni
dengan menggunakan induk 1:1, 1:2, dan 1:3, tergantung
kesiapan induk yang ada. Pembuahan berlangsung semibuatan, sehingga setelah penyuntikan hormon, induk
dipasangkan dalam kolam pemijahan dengan disertai
shelter (kakaban). Larva yang menetas diinkubasi selama
satu minggu di bak beton, selanjutnya ditebar di kolam
pendederan selama satu bulan (sampling I), pakan yang
diberikan berupa Tubifex sehari dua kali (ad libitum).
Setelah larva berumur satu bulan dipindahkan ke kolam
pembesaran (tanah) dengan pemberian pakan berupa
pelet.
Sampling akan dilakukan satu bulan sekali
untuk mengetahui pertumbuhnnya. Parameter yang
diamati fekunditas, hatching rate, sintasan larva dan
benih, pertambahan panjang dan bobot ikan, serta,
dengan kualitas air sebagai pendukung. Perhitungan
pertambahan biomassa dan laju pertambahan panjang
bulanan menggunakan rumus sebagai berikut (Matricia
et al., 1989):
dW = Wt – W0
dW = rataan pertumbuhan biomassa
Wt = biomassa rataan pada minggu kedelapan (g)
W0 = biomassa rataan pada awal penelitian (g)
Gi = [(Li(t2)-Lo)]/6
Gi = perubahan panjang/bobot per bulan
Lo = panjang/bobot awal percobaan
Li(t2) = panjang/bobot ikan ke-i pada minggu
kedelapan
HASIL DAN BAHASAN
Persiapan kolam untuk budidaya meliputi perbaikan
kolam tanah dan kolam beton, yang digunakan
untuk adaptasi induk sampai pembesaran (Gambar
1). Pengolahan kolam meliputi kolam tanah untuk
pendederan dan pembesaran serta kolam beton untuk
pemijahan dan inkubasi telur.
Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa pengolahan
kolam tanah mulai dari pengeringan dan pengedukan
ulang untuk perbaikan dasar kolam dan pematang.
Kolam tanah yang diperbaiki sebanyak 20 kolam.
Perbaikan kolam tanah dimulai dari pemupukan
dengan kotoran ayam untuk menumbuhkan pakan
alami yang nantinya berguna untuk pakan benih ikan
koi yang ditebar. Pengairan kolam tanah tersebut
Media Akuakultur Vol. 10 No. 2 Tahun 2015: 71-78
73
dengan menggunakan air tanah (pompa). Sedangkan
kolam beton berjumlah empat buah digunakan untuk
pemijahan dan inkubasi telur.
Induk diperoleh dari beberapa pembudidaya di
daerah Jawa Barat dan sekitarnya dan dari sentra produksi
di Kabupaten Blitar. Jumlah induk yang digunakan untuk
penelitian ini sebanyak 22 ekor rata-rata berukuran
panjang 35-45 cm dan bobot 1,5-2,5 kg. Induk-induk
tersebut terdiri atas beberapa strain yaitu showa, sanke,
kohaku, dan bekko dengan perbandingan sembilan ekor
jantan dan 13 ekor betina. Kondisi induk-induk tersebut
hampir semua telah mencapai TKG II dan III (Gambar 2).
Ukuran induk betina lebih besar dibandingkan dengan
induk jantan. Demikian juga dengan umur masing-masing
induk yang dikoleksi tersebut berkisar antara 1,5-2 tahun.
Kualitas induk lokal yang dikoleksi dari sentra
produksi tersebut adalah grade B berdasarkan seleksi
kecerahan warna, pola warna, penampilan tubuh, dan
kebugaran. Kualitas induk dari keempat strain tersebut
bervariasi, untuk strain showa pada grade yang sama
memiliki kualitas yang terbaik dari semua aspek, disusul
yang kedua adalah sanke, dan selanjutnya ogon. Untuk
strain kohaku memiliki kualitas yang paling rendah dari
ukuran dan warna.
Pemeliharaan induk pertama kali diadaptasikan
di kolam beton BPPBIH selama dua minggu untuk
mendapatkan kondisi yang stabil dan siap memijah.
Pada pemeliharaan selama satu minggu tersebut indukinduk yang diadaptasikan terserang argulus untuk
semua induk sebelum ditebar dan dipelihara di kolam
tanah. Penanganan serangan argulus tersebut dengan
perendaman PK dan garam untuk beberapa saat dan
selanjutnya dipindahkan sementara ke kolam lain
yang langsung terkena sinar matahari, serta dilakukan
penggantian air. Untuk seterusnya induk-induk
dipelihara pada kolam tanah berukuran 5 m x 6 m.
Pakan yang diberikan untuk induk-induk adalah
pelet komersial, dan untuk mempercepat kematangan
gonad diseling dengan pakan alami yaitu cacing tanah.
Pemberian pakan untuk induk dua kali sehari secara
ad libitum. Komposisi pakan buatan (pelet komersial)
dapat dilihat pada Tabel 1.
Pemeliharaan induk dilakukan bertujuan untuk
melakukan seleksi dan untuk mematangkan gonad
agar ikan siap untuk dipijahkan dan diharapkan
menghasilkan keturunan yang diinginkan. Induk
dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina
untuk menghindari pemijahan massal.
Gambar 2. Induk-induk ikan koi lokal yang dikoleksi dan digunakan untuk pembenihan
(1, 5, 13 = Kohaku; 2, 4, 5, 6, 7, 8, 13, 14 = showa; 3 = bekko; 10, 11, 12 =
sanke)