BUDIDAYA IKAN PATIN
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
BUDIDAYA IKAN PATIN
( Pangasius pangasius )
1. SEJARAH SINGKAT
Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna putih
perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin dikenal sebagai komoditi yang
berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan
patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya.
Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan,
dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai keluarga
Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk “membongsorkan“
tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan oksigen rendahpun sudah
memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini.
Ikan patin berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti perak,
punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung
kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya
terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba.
2. SENTRA PERIKANAN
Penangkaran ikan patin banyak terdapat di Lampung, Sumatera Selatan, Jawa
Barat, Kalimantan.
3. JENIS
Klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut:
Ordo : Ostarioplaysi.
Subordo : Siluriodea.
Famili : Pangasidae.
Genus : Pangasius.
Spesies : Pangasius pangasius Ham. Buch.
Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup banyak, diantaranya:
a) Pangasius polyuranodo (ikan juaro)
b) Pangasius macronema
c) Pangasius micronemus
d) Pangasius nasutus
e) Pangasius nieuwenhuisii
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
4. MANFAAT
1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2) Sebagai ikan hias.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak
berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor
sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka
lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan tidak
tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus
diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan
penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
5) Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium adalah antara
26–28 oC. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater
(pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
6) Keasaman air berkisar antara: 6,5–7.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi menjadi 2
kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran. Kedua jenis kegiatan ini umumnya belum
populer dilakukan oleh masyarakat, karena umumnya masih mengandalkan kegiatan
penangkapan di alam (sungai, situ, waduk, dan lain-lain) untuk memenuhi kebutuhan akan
ikan patin. Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran
tertentu. Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang umumnya adalah benih
selepas masa pendederan. Benih ikan patin dapat diperoleh dari hasil tangkapan di perairan
umum. Biasanya menjelang musim kemarau pada pagi hari dengan menggunakan alat
tangkap jala atau jaring. Benih dapat juga dibeli dari Balai Pemeliharaan Air Tawar di Jawa
Barat. Benih dikumpulkan dalam suatu wadah, dan dirawat dengan hati-hati selama 2
minggu. Jika air dalam penampungan sudah kotor, harus segera diganti dengan air bersih,
dan usahakan terhindar dari sengatan matahari. Sebelum benih ditebar, dipelihara dulu
dalam jaring selama 1 bulan, selanjutnya dipindahkan ke dalam hampang yang sudah
disiapkan.
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
Secara garis besar usaha pembenihan ikan patin meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a) Pemilihan calon induk siap pijah.
b) Persiapan hormon perangsang/kelenjar hipofise dari ikan donor,yaitu ikan mas.
c) Kawin suntik (induce breeding).
d) Pengurutan (striping).
e) Penetasan telur.
f) Perawatan larva.
g) Pendederan.
h) Pemanenan.
Pada usaha budidaya yang semakin berkembang, tempat pembenihan dan pembesaran
sering kali dipisahkan dengan jarak yang agak jauh. Pemindahan benih dari tempat
pembenihan ke tempat pembesaran memerlukan penanganan khusus agar benih selamat.
Keberhasilan transportasi benih ikan biasanya sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik
maupun kimia air, terutama menyangkut oksigen terlarut, NH3, CO2, pH, dan suhu air.
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di
lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga memudahkan pengairan kolam
secara gravitasi.
1) Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai contoh
untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya
mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk
100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya
persegi panjang dengan dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi
anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan
dipasang sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
2) Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas kolam
pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk kolam empat persegi
panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan
luas kolam sekitar 18 m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring
kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu
pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau
ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama
dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
- Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke
daerah yang ada telurnya.
3) Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan pendederan ini
biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan luas 25-500 m2 dan
pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak. Pemasukan air bisa dengan pralon dan
pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan
kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir
adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan
penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak tambahan
air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan
dan bak penyaringan.
6.2. Pembibitan
1) Menyiapkan Bibit
Bibit yang hendak dipijahkan bisa berasal dari hasil pemeliharaan dikolam sejak kecil
atau hasil tangkapan dialam ketika musim pemijahan tiba. Induk yang ideal adalah dari
kawanan patin dewasa hasil pembesaran dikolam sehingga dapat dipilihkan induk yang
benar-benar berkualitas baik.
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Induk patin yang hendak dipijahkan sebaiknya dipelihara dulu secara khusus di dalam
sangkar terapung. Selama pemeliharaan, induk ikan diberi makanan khusus yang
banyak mengandung protein. Upaya untuk memperoleh induk matang telur yang pernah
dilakukan oleh Sub Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Palembang adalah dengan
memberikan makanan berbentuk gumpalan (pasta) dari bahan-bahan pembuat makanan
ayam dengan komposisi tepung ikan 35%, dedak halus 30%, menir beras 25%, tepung
kedelai 10%, serta vitamin dan mineral 0,5%. Makanan diberikan lima hari dalam
seminggu sebanyak 5% setiap hari dengan pembagian pagi hari 2,5% dan sore hari
2,5%. Selain itu, diberikan juga rucah dua kali seminggu sebanyak 10% bobot ikan
induk. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat kematangan gonad.
Ciri-ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap dipijahkan adalah sebagai berikut :
a. Induk betina
- Umur tiga tahun.
- Ukuran 1,5–2 kg.
- Perut membesar ke arah anus.
- Perut terasa empuk dan halus bila di raba.
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
r beberapa butir telur yang bentuknya bundar
n.
dan tipis.
sperma berwarna putih.
dalam akuarium berukuran 80 cm x 45
kolam, di jala apung, melalui sistem pen dan
ikan patin di kolam dapat dilakukan melalui sistem monokultur maupun
esaran ikan patin di jala apung, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: lokasi
iperhatikan: pemilihan lokasi, kualitas
, perlu diperhatikan masalah: pemilihan lokasi,
i dengan
Perairan tidak tercemar dan dasarnya sedikit berlumpur. Terhindar dari gelombang dan
- Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.
- kalau di sekitar kloaka ditekan akan kelua
dan besarnya seragam.
b. Induk jantan
- Umur dua tahu
- Ukuran 1,5–2 kg.
- Kulit perut lembek
- Bila diurut akankeluar cairan
- Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.
Benih ikan patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke
cm x 45 cm. Setiap akuarium diisi dengan air sumur bor yang telah diaerasi. Kepadatan
penebaran ikan adalah 500 ekor per akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium
agar keperluan oksigen untuk benih dapat tercukupi. Untuk menjaga kestabilan suhu
ruangan dan suhu air digunakan heater atau dapat menggunakan kompor untuk menghemat
dana. Benih umur sehari belum perlu diberi makan tambahan dari luar karena masih
mempunyai cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur. Pada hari ketiga, benih
ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus. Selanjutnya
berangsur-angsur diganti dengan makanan hidup berupa Moina cyprinacea atau yang biasa
dikenal dengan kutu air dan jentik nyamuk.
Pembesaran ikan patin dapat dilakukan di
dalam karamba.
a) Pembesaran
polikultur.
b) Pada pemb
pemeliharaan, bagaimana cara menggunakan jala apung, bagaimana kondisi perairan
dan kualitas airnya serta proses pembesarannya.
c) Pada pembesaran ikan patin sistem pen, perlu d
air, bagaimana penerapan sistem tersebut, penebaran benih, dan pemberian pakan
serta pengontrolan dan pemanenannya.
d) Pada pembesaran ikan patin di karamba
penebaran benih, pemberian pakan tambahan, pengontrolan dan pemanenan.
Hampang dapat terbuat dari jaring, karet, bambu atau ram kawat yang dilengkap
tiang atau tunggak yang ditancapkan ke dasar perairan. Lokasi yang cocok untuk
pemasangan hampang : kedalaman air ± 0,5-3 m dengan fluktuasi kedalaman tidak lebih
dari 50 cm, arus tidak terlalu deras, tetapi cukup untuk sirkulasi air dalam hampang.
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
ntuk meningkatkan dan produktivitas kolam, yaitu dengan
ng pertumbuhan makanan alami sebanyakbanyaknya. Pupuk yang biasa
2)
igro
nak 10 ml ke dalam 3 kg pakan (aplikasi dilakukan setiap kali
3)
an tambahan berupa pellet setiap hari
n kecil/sisa (ikan rucah) ataupun sisa dapur yang
7. A
a. ase Pengolahan Lahan
arutan Migro Tambak merata pada dasar
hap ini diperlukan 6 liter Migro Tambak per hektar. Bertujuan
b.
60 cm, kemudian
ak secara merata pada permukaan air tambak/kolam dengan
c.
ir tambak/kolam sebanyak 0,02
uensi pemberiannya setiap 2 (dua) minggu sekali.
angin yang kencang serta terhindar dari hama, penyakit dan predator (pemangsa). Pada
perairan yang dasarnya berbatu, harus digunakan pemberat untuk membantu
mengencangkan jaring. Jarak antara tiang bambu/kayu sekitar 0,5-1 m.
6.3. Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemupukan
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
BUDIDAYA IKAN PATIN
( Pangasius pangasius )
1. SEJARAH SINGKAT
Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna putih
perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin dikenal sebagai komoditi yang
berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan
patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya.
Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan,
dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai keluarga
Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk “membongsorkan“
tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan oksigen rendahpun sudah
memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini.
Ikan patin berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti perak,
punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung
kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya
terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba.
2. SENTRA PERIKANAN
Penangkaran ikan patin banyak terdapat di Lampung, Sumatera Selatan, Jawa
Barat, Kalimantan.
3. JENIS
Klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut:
Ordo : Ostarioplaysi.
Subordo : Siluriodea.
Famili : Pangasidae.
Genus : Pangasius.
Spesies : Pangasius pangasius Ham. Buch.
Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup banyak, diantaranya:
a) Pangasius polyuranodo (ikan juaro)
b) Pangasius macronema
c) Pangasius micronemus
d) Pangasius nasutus
e) Pangasius nieuwenhuisii
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
4. MANFAAT
1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2) Sebagai ikan hias.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak
berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor
sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka
lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan tidak
tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus
diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan
penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
5) Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium adalah antara
26–28 oC. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater
(pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
6) Keasaman air berkisar antara: 6,5–7.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi menjadi 2
kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran. Kedua jenis kegiatan ini umumnya belum
populer dilakukan oleh masyarakat, karena umumnya masih mengandalkan kegiatan
penangkapan di alam (sungai, situ, waduk, dan lain-lain) untuk memenuhi kebutuhan akan
ikan patin. Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran
tertentu. Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang umumnya adalah benih
selepas masa pendederan. Benih ikan patin dapat diperoleh dari hasil tangkapan di perairan
umum. Biasanya menjelang musim kemarau pada pagi hari dengan menggunakan alat
tangkap jala atau jaring. Benih dapat juga dibeli dari Balai Pemeliharaan Air Tawar di Jawa
Barat. Benih dikumpulkan dalam suatu wadah, dan dirawat dengan hati-hati selama 2
minggu. Jika air dalam penampungan sudah kotor, harus segera diganti dengan air bersih,
dan usahakan terhindar dari sengatan matahari. Sebelum benih ditebar, dipelihara dulu
dalam jaring selama 1 bulan, selanjutnya dipindahkan ke dalam hampang yang sudah
disiapkan.
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
Secara garis besar usaha pembenihan ikan patin meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a) Pemilihan calon induk siap pijah.
b) Persiapan hormon perangsang/kelenjar hipofise dari ikan donor,yaitu ikan mas.
c) Kawin suntik (induce breeding).
d) Pengurutan (striping).
e) Penetasan telur.
f) Perawatan larva.
g) Pendederan.
h) Pemanenan.
Pada usaha budidaya yang semakin berkembang, tempat pembenihan dan pembesaran
sering kali dipisahkan dengan jarak yang agak jauh. Pemindahan benih dari tempat
pembenihan ke tempat pembesaran memerlukan penanganan khusus agar benih selamat.
Keberhasilan transportasi benih ikan biasanya sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik
maupun kimia air, terutama menyangkut oksigen terlarut, NH3, CO2, pH, dan suhu air.
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di
lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga memudahkan pengairan kolam
secara gravitasi.
1) Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai contoh
untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya
mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk
100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya
persegi panjang dengan dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi
anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan
dipasang sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
2) Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas kolam
pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk kolam empat persegi
panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan
luas kolam sekitar 18 m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring
kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu
pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau
ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama
dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
- Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke
daerah yang ada telurnya.
3) Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan pendederan ini
biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan luas 25-500 m2 dan
pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak. Pemasukan air bisa dengan pralon dan
pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan
kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir
adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan
penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak tambahan
air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan
dan bak penyaringan.
6.2. Pembibitan
1) Menyiapkan Bibit
Bibit yang hendak dipijahkan bisa berasal dari hasil pemeliharaan dikolam sejak kecil
atau hasil tangkapan dialam ketika musim pemijahan tiba. Induk yang ideal adalah dari
kawanan patin dewasa hasil pembesaran dikolam sehingga dapat dipilihkan induk yang
benar-benar berkualitas baik.
2) Perlakuan dan Perawatan Bibit
Induk patin yang hendak dipijahkan sebaiknya dipelihara dulu secara khusus di dalam
sangkar terapung. Selama pemeliharaan, induk ikan diberi makanan khusus yang
banyak mengandung protein. Upaya untuk memperoleh induk matang telur yang pernah
dilakukan oleh Sub Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Palembang adalah dengan
memberikan makanan berbentuk gumpalan (pasta) dari bahan-bahan pembuat makanan
ayam dengan komposisi tepung ikan 35%, dedak halus 30%, menir beras 25%, tepung
kedelai 10%, serta vitamin dan mineral 0,5%. Makanan diberikan lima hari dalam
seminggu sebanyak 5% setiap hari dengan pembagian pagi hari 2,5% dan sore hari
2,5%. Selain itu, diberikan juga rucah dua kali seminggu sebanyak 10% bobot ikan
induk. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat kematangan gonad.
Ciri-ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap dipijahkan adalah sebagai berikut :
a. Induk betina
- Umur tiga tahun.
- Ukuran 1,5–2 kg.
- Perut membesar ke arah anus.
- Perut terasa empuk dan halus bila di raba.
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
r beberapa butir telur yang bentuknya bundar
n.
dan tipis.
sperma berwarna putih.
dalam akuarium berukuran 80 cm x 45
kolam, di jala apung, melalui sistem pen dan
ikan patin di kolam dapat dilakukan melalui sistem monokultur maupun
esaran ikan patin di jala apung, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: lokasi
iperhatikan: pemilihan lokasi, kualitas
, perlu diperhatikan masalah: pemilihan lokasi,
i dengan
Perairan tidak tercemar dan dasarnya sedikit berlumpur. Terhindar dari gelombang dan
- Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.
- kalau di sekitar kloaka ditekan akan kelua
dan besarnya seragam.
b. Induk jantan
- Umur dua tahu
- Ukuran 1,5–2 kg.
- Kulit perut lembek
- Bila diurut akankeluar cairan
- Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.
Benih ikan patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke
cm x 45 cm. Setiap akuarium diisi dengan air sumur bor yang telah diaerasi. Kepadatan
penebaran ikan adalah 500 ekor per akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium
agar keperluan oksigen untuk benih dapat tercukupi. Untuk menjaga kestabilan suhu
ruangan dan suhu air digunakan heater atau dapat menggunakan kompor untuk menghemat
dana. Benih umur sehari belum perlu diberi makan tambahan dari luar karena masih
mempunyai cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur. Pada hari ketiga, benih
ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus. Selanjutnya
berangsur-angsur diganti dengan makanan hidup berupa Moina cyprinacea atau yang biasa
dikenal dengan kutu air dan jentik nyamuk.
Pembesaran ikan patin dapat dilakukan di
dalam karamba.
a) Pembesaran
polikultur.
b) Pada pemb
pemeliharaan, bagaimana cara menggunakan jala apung, bagaimana kondisi perairan
dan kualitas airnya serta proses pembesarannya.
c) Pada pembesaran ikan patin sistem pen, perlu d
air, bagaimana penerapan sistem tersebut, penebaran benih, dan pemberian pakan
serta pengontrolan dan pemanenannya.
d) Pada pembesaran ikan patin di karamba
penebaran benih, pemberian pakan tambahan, pengontrolan dan pemanenan.
Hampang dapat terbuat dari jaring, karet, bambu atau ram kawat yang dilengkap
tiang atau tunggak yang ditancapkan ke dasar perairan. Lokasi yang cocok untuk
pemasangan hampang : kedalaman air ± 0,5-3 m dengan fluktuasi kedalaman tidak lebih
dari 50 cm, arus tidak terlalu deras, tetapi cukup untuk sirkulasi air dalam hampang.
Sumber:
1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. MIG Corp.
ntuk meningkatkan dan produktivitas kolam, yaitu dengan
ng pertumbuhan makanan alami sebanyakbanyaknya. Pupuk yang biasa
2)
igro
nak 10 ml ke dalam 3 kg pakan (aplikasi dilakukan setiap kali
3)
an tambahan berupa pellet setiap hari
n kecil/sisa (ikan rucah) ataupun sisa dapur yang
7. A
a. ase Pengolahan Lahan
arutan Migro Tambak merata pada dasar
hap ini diperlukan 6 liter Migro Tambak per hektar. Bertujuan
b.
60 cm, kemudian
ak secara merata pada permukaan air tambak/kolam dengan
c.
ir tambak/kolam sebanyak 0,02
uensi pemberiannya setiap 2 (dua) minggu sekali.
angin yang kencang serta terhindar dari hama, penyakit dan predator (pemangsa). Pada
perairan yang dasarnya berbatu, harus digunakan pemberat untuk membantu
mengencangkan jaring. Jarak antara tiang bambu/kayu sekitar 0,5-1 m.
6.3. Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemupukan