PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS GUPPY



PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS GUPPY (Cyprinus carpio) LOKAL

DI BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS DEPOK

Eni Kusrini, Sawung Cindelaras, dan Anjang Bangun Prasetio

Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias

Jl. Perikanan No. 13, Pancoran Mas, Depok 16436

E-mail: ennyperikanan@yahoo.com

ABSTRAK

Salah satu komoditas ikan hias air tawar introduksi yang sampai saat ini masih menjadi primadona di pasar

internasional dan merupakan ikan hias kelompok mahal, serta fluktuasi di pasaranpun relatif stabil adalah ikan Guppy

(Cyprinus carpio). Komoditas ikan hias Guppy telah menjadi komoditas andalan di beberapa daerah seperti Sukabumi,

Cianjur, dan Blitar karena telah berhasil mengangkat perekonomi masyarakat dan menjadikannya sebagai alternatif

penghasilan selain padi. Guna mendukung produksi ikan hias Guppy di beberapa sentra yang ada, dilakukan penelitian

untuk mengembangkan budidaya secara intensif yang dilakukan pada lingkungan terkontrol melalui perbaikan

teknologi budidaya. Penelitian dilakukan skala lapang di BPPBIH dengan metode survai ke sentra produksi

untuk koleksi induk, pembenihan, dan pembesaran dengan menggunakan kolam tanah serta kolam beton untuk

pemijahan dan inkubasi telur. Hasil dari penelitian ini berupa data dan informasi teknik budidaya dan produksinya

yang dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi budidaya ikan hias Guppy.

KATA KUNCI: Cyprinus carpio, budidaya, produksi benih

ABSTRACT: Development of local Guppy (Cyprinus carpio) aquaculture at Institute of Research and Development

Ornamental Fish Culture. By: Eni Kusrini, Sawung Cindelaras, and Anjang Bangun Prasetio

Guppy (Cyprinus carpio) is one of commodity freshwater fish introductions that primadona in the international market,

high price ornamental fish, and relatively stable market. Guppy fish has become valuable commodity in some areas such as

Sukabumi, Cianjur, and Blitar because it contribute to economic society and also become alternative revenue in addition to

rice. To support Guppy fish production in some existing aquaculture centers, research to develop intensive cultivation is done

in a controlled environment and with improvement of cultivation technology. Research conducted at the field scale RDOFC

with the implementation of the research was a survey method of production centers for the collection of system, seed, and

magnification using concrete ground pools and ponds for spawning and incubation of eggs.

KEYWORDS: Cyprinus carpio, aquaculture, seed product

PENDAHULUAN

Salah satu keanekaragaman hayati yang dimiliki

Indonesia dan patut dibanggakan adalah keragaman

spesies ikan hias air tawar. Ikan hias air tawar

diperkirakan sekitar 400 spesies dari 1.100 spesies ikan

hias yang ada di seluruh dunia. Salah satu komoditas

ikan hias air tawar introduksi yang sampai saat ini

masih menjadi primadona di pasar internasional dan

merupakan ikan hias kelompok mahal, serta fluktuasi

di pasaranpun relatif stabil adalah ikan Guppy (Cyprinus

carpio).

Ikan hias Guppy atau nishikigoi sebagai salah satu ikan

hias yang banyak diminati karena keindahan bentuk

badan serta warnanya, dan dipercaya membawa

keuntungan oleh para pecinta Guppy di Indonesia. Jenis

ikan Guppy yang memiliki harga cukup baik dan stabil di

pasar dunia yaitu kohaku, taisho, sanshoku, showa,

shiro, utsuri, shusui, asagi, goromo, goshiki, bekko,

tancho, kinginrin, dan kawarimono (Anonim, 2010).

Potensi yang besar dari komoditas Guppy di Indonesia

sebagai salah satu komoditas ikan hias unggulan yang

cukup pesat belakangan ini, terutama pada beberapa

daerah seperti Sukabumi, Cianjur, Jakarta Barat, Blitar,

dan Makassar. Hal tersebut diduga karena budidaya

Guppy di Jepang yang merupakan negara pembudidaya

Guppy terbesar di dunia, mulai terkendala lahan sehingga

peluang budidaya di Indonesia masih cukup besar

untuk meraih potensi pasar yang terus meningkat.

Besarnya nilai transaksi dan perdagangan Guppy di

Indonesia membuat pemerintah melalui Kementerian

Kelautan dan Perikanan (KKP) berminat membangun

beberapa daerah sentra Guppy untuk menjadi daerah

Pengembangan budidaya ikan hias Guppy (Cyprinus carpio) lokal ..... (Eni Kusrini)

72

penghasil Guppy terbesar di tanah air melalui konsep

minapolitan. Dengan adanya kegiatan tersebut, KKP

mengembangkan potensi ikan hias nasional yang

diharapkan dapat meningkatkan kualitas Guppy lokal

yang dapat bersaing dengan Guppy impor baik di pasar

domestik maupun internasional.

Komoditas ikan hias Guppy telah menjadi komoditas

andalan di beberapa daerah seperti Sukabumi,

Cianjur, dan Blitar karena telah berhasil mengangkat

perekonomi masyarakat dan menjadikannya sebagai

alternatif penghasilan selain padi. Para petani maupun

pembudidaya Guppy di daerah tersebut terbentuk dalam

kelompok-kelompok tani sehingga hasil produksi

mereka tertata dengan baik meskipun cara budidaya

yang dilakukan selama ini masih secara tradisional.

Guna mendukung produksi Guppy di beberapa sentra

yang ada, penelitian untuk mengembangkan budidaya

secara intensif yang dilakukan pada lingkungan

terkontrol melalui perbaikan teknologi budidaya.

Pengembangan budidaya yang dilakukan berlokasi

di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan

Hias Depok, dengan pengambilan induk-induk dari

beberapa sentra produksi Guppy baik Sukabumi, Cianjur,

maupun Blitar. Pembenihan dilakukan secara alami,

semi-buatan, dan murni buatan yang diharapkan benih

yang dihasilkan akan mempunyai umur, ukuran yang

seragam. Selain itu, kualitas telur yang dihasilkan

juga lebih baik sehingga sintasan larvanya meningkat

dibandingkan dengan pemijahan alami yang sering

terkendala dengan pemeliharaan larva dengan sintasan

yang rendah.

Penelitian pengembangan budidaya ikan hias

Guppy yang dilakukan ini merupakan kegiatan sintesis

informasi yang berarti pemaduan berbagai informasi

dalam hal ini budidaya ikan Guppy, termasuk hasil

penelitian yang akan diperoleh, sehingga diperoleh

suatu kesimpulan yang selaras. Hal ini berarti

kegiatan utama ialah pengumpulan informasi secara

sistematis tentang budidaya ikan Guppy dan penarikan

kesimpulan logis dari informasi tersebut. Tujuan dari

penelitian ini yaitu mendapatkan data dan informasi

tentang peningkatan produksi ikan hias Guppy melalui

pengembangan budidayanya.

BAHAN DAN METODE

Penelitian pengembangan budidaya ikan hias

Guppy di BPPBIH dilakukan mulai dari persiapan kolam

pemeliharaan, pemijahan, inkubasi telur, pendederan,

dan pembesaran, yang meliputi kolam beton berukuran

2 m x 6 m disekat dengan waring, kolam tanah

berukuran 5 m x 6 m untuk pembesaran, bak beton

berukuran 2 m x 2 m untuk pemijahan dan inkubasi

telur dilakukan selama dua minggu. Kolam induk,

pendederan, dan pembesaran dilengkapi dengan

sirkulasi air deras (air tanah/pompa). Selanjutnya

pengadaan induk-induk dari beberapa sentra produksi

dan dibeli dari pembudidaya, serta dilakukan seleksi

kualitasnya, kemudian pengangkutan induk dari daerah

sentra produksi ke BPPBIH Depok dengan tansportasi

darat untuk diadaptasikan di kolam terkontrol selama

satu minggu.

Pemeliharaan induk di kolam beton berukuran

secara terpisah antara induk jantan dan betina. Pakan

yang diberikan berupa kombinasi pakan alami (cacing

tanah) dan pakan komersial secara berseling sehari

dua kali (pagi dan sore) secara ad libitum. Pelaksanaan

pembenihan alami, semi-buatan, dan buatan murni

dengan menggunakan induk 1:1, 1:2, dan 1:3, tergantung

kesiapan induk yang ada. Pembuahan berlangsung semibuatan, sehingga setelah penyuntikan hormon, induk

dipasangkan dalam kolam pemijahan dengan disertai

shelter (kakaban). Larva yang menetas diinkubasi selama

satu minggu di bak beton, selanjutnya ditebar di kolam

pendederan selama satu bulan (sampling I), pakan yang

diberikan berupa Tubifex sehari dua kali (ad libitum).

Setelah larva berumur satu bulan dipindahkan ke kolam

pembesaran (tanah) dengan pemberian pakan berupa

pelet.

Sampling akan dilakukan satu bulan sekali

untuk mengetahui pertumbuhnnya. Parameter yang

diamati fekunditas, hatching rate, sintasan larva dan

benih, pertambahan panjang dan bobot ikan, serta,

dengan kualitas air sebagai pendukung. Perhitungan

pertambahan biomassa dan laju pertambahan panjang

bulanan menggunakan rumus sebagai berikut (Matricia

et al., 1989):

dW = Wt – W0

dW = rataan pertumbuhan biomassa

Wt = biomassa rataan pada minggu kedelapan (g)

W0 = biomassa rataan pada awal penelitian (g)

Gi = [(Li(t2)-Lo)]/6

Gi = perubahan panjang/bobot per bulan

Lo = panjang/bobot awal percobaan

Li(t2) = panjang/bobot ikan ke-i pada minggu

kedelapan

HASIL DAN BAHASAN

Persiapan kolam untuk budidaya meliputi perbaikan

kolam tanah dan kolam beton, yang digunakan

untuk adaptasi induk sampai pembesaran (Gambar

1). Pengolahan kolam meliputi kolam tanah untuk

pendederan dan pembesaran serta kolam beton untuk

pemijahan dan inkubasi telur.

Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa pengolahan

kolam tanah mulai dari pengeringan dan pengedukan

ulang untuk perbaikan dasar kolam dan pematang.

Kolam tanah yang diperbaiki sebanyak 20 kolam.

Perbaikan kolam tanah dimulai dari pemupukan

dengan kotoran ayam untuk menumbuhkan pakan

alami yang nantinya berguna untuk pakan benih ikan

Guppy yang ditebar. Pengairan kolam tanah tersebut

Media Akuakultur Vol. 10 No. 2 Tahun 2015: 71-78

73

dengan menggunakan air tanah (pompa). Sedangkan

kolam beton berjumlah empat buah digunakan untuk

pemijahan dan inkubasi telur.

Induk diperoleh dari beberapa pembudidaya di

daerah Jawa Barat dan sekitarnya dan dari sentra produksi

di Kabupaten Blitar. Jumlah induk yang digunakan untuk

penelitian ini sebanyak 22 ekor rata-rata berukuran

panjang 35-45 cm dan bobot 1,5-2,5 kg. Induk-induk

tersebut terdiri atas beberapa strain yaitu showa, sanke,

kohaku, dan bekko dengan perbandingan sembilan ekor

jantan dan 13 ekor betina. Kondisi induk-induk tersebut

hampir semua telah mencapai TKG II dan III (Gambar 2).

Ukuran induk betina lebih besar dibandingkan dengan

induk jantan. Demikian juga dengan umur masing-masing

induk yang dikoleksi tersebut berkisar antara 1,5-2 tahun.

Kualitas induk lokal yang dikoleksi dari sentra

produksi tersebut adalah grade B berdasarkan seleksi

kecerahan warna, pola warna, penampilan tubuh, dan

kebugaran. Kualitas induk dari keempat strain tersebut

bervariasi, untuk strain showa pada grade yang sama

memiliki kualitas yang terbaik dari semua aspek, disusul

yang kedua adalah sanke, dan selanjutnya ogon. Untuk

strain kohaku memiliki kualitas yang paling rendah dari

ukuran dan warna.

Pemeliharaan induk pertama kali diadaptasikan

di kolam beton BPPBIH selama dua minggu untuk

mendapatkan kondisi yang stabil dan siap memijah.

Pada pemeliharaan selama satu minggu tersebut indukinduk yang diadaptasikan terserang argulus untuk

semua induk sebelum ditebar dan dipelihara di kolam

tanah. Penanganan serangan argulus tersebut dengan

perendaman PK dan garam untuk beberapa saat dan

selanjutnya dipindahkan sementara ke kolam lain

yang langsung terkena sinar matahari, serta dilakukan

penggantian air. Untuk seterusnya induk-induk

dipelihara pada kolam tanah berukuran 5 m x 6 m.

Pakan yang diberikan untuk induk-induk adalah

pelet komersial, dan untuk mempercepat kematangan

gonad diseling dengan pakan alami yaitu cacing tanah.

Pemberian pakan untuk induk dua kali sehari secara

ad libitum. Komposisi pakan buatan (pelet komersial)

dapat dilihat pada Tabel 1.

Pemeliharaan induk dilakukan bertujuan untuk

melakukan seleksi dan untuk mematangkan gonad

agar ikan siap untuk dipijahkan dan diharapkan

menghasilkan keturunan yang diinginkan. Induk

dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina

untuk menghindari pemijahan massal.

Gambar 2. Induk-induk ikan Guppy lokal yang dikoleksi dan digunakan untuk pembenihan

(1, 5, 13 = Kohaku; 2, 4, 5, 6, 7, 8, 13, 14 = showa; 3 = bekko; 10, 11, 12 =

sanke)

Figure 2. Guppy fish broodstocks collected and used for breeding (1, 5, 13 = Kohaku; 2, 4, 5, 6,

7, 8, 13, 14 = showa; 3 = bekko; 10, 11, 12 = sanke)

Gambar 1. Perbaikan kolam

Figure 1. Repair ponds

1 5

6 7 8

9 11

14 15 16 17 18

10 12 13

2 3 4

Pengembangan budidaya ikan hias Guppy (Cyprinus carpio) lokal ..... (Eni Kusrini)

74

Tabel 1. Komposisi pakan buatan

Table 1. Composition of artificial feed

Tabel 2. Keragaan induk-induk ikan hias Guppy strain showa sebelum

dipijahkan secara semi buatan

Table 2. Performance local fish Guppy showa strain showa before spawning in

of artificial

Setelah induk-induk dipelihara hampir tiga minggu

di kolam tanah BPPBIH Depok, dilakukan seleksi induk

yang matang gonad untuk dilakukan pemijahan.

Pemijahan pertama dan kedua terdiri atas dua induk

betina dan empat induk jantan dari strain showa.

Sebelum dilakukan penyuntikan induk dikarantina

selama satu hari, secara terpisah, dipuasakan, diukur

panjang, dan ditimbang bobotnya (Tabel 2). Pemijahan

dilakukan di kolam beton hatcheri berukuran 2 m x 2 m

ketinggian air 1 m dengan perbandingan induk betina

dan jantan 1:2. Sedangkan untuk performa induk-induk

jantan dan betina yang siap untuk disuntik hormon

tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.

Pemijahan dilakukan dengan stimulasi hormon

gonadotropin merk ovaprim@. Dosis hormon yang

digunakan adalah 0,5 mL/kg untuk induk betina dan

0,3 mL/kg (Gambar 3). Penyuntikan keempat induk

(Gambar 4) dilakukan pada sore hari pukul 16.17

untuk pemijahan I dan 16.30 untuk pemijahan II,

dan selanjutnya dilepaskan pada bak pemijahan yang

berukuran 2 m x 2 m yang disertai dengan kakaban

yang berfungsi sebagai substrat untuk menempelnya

telur-telur. Setiap bak diberi satu buah kakaban, yang

sebelumnya dibesihkan dan dicuci untuk menjaga

kontaminasi patogen. Setelah rentang waktu 9-10 jam

pasca penyuntikan, terjadi ovulasi pada pukul 01.30

WIB, sedangkan pada induk-induknya dipindahkan ke

media fiber setelah 4-5 jam setelah pembuahan, dan

kakaban yang berisi telur diangkat dan dipindahkan ke

bak inkubasi (Gambar 5).

Pengamatan hasil pemijahan meliputi fekunditas,

ukuran telur, derajat penetasan, dan pertumbuhan.

Penghitungan fekunditas dihitung berdasarkan

pengukuran bobot induk sebelum dipijahkan dan

setelah dipijahkan. Hasil pengukuran bobot induk

betina setelah ovulasi ditampilkan pada Tabel 3.

Perkiraan fekunditas pada pemijahan pertama untuk

dua induk betina lokal tersebut diperoleh ± 7.500 telur

dan 8.200 telur. Sedangkan untuk mengetahui bobot

telur per butir diamati secara acak (di-sampling) dan

ditimbang dengan timbangan o-house. Untuk bobot

telur total yang dihasilkan pada pemijahan tersebut

adalah sebesar sekitar 113 g dan 123 g dihitung dari

bobot induk betina sebelum ovulasi dikurangi bobot

induk betina setelah ovulasi, sedangkan bobot telur per

butir sebesar 0,0015 g dilakukan pengukuran dengan

tiga kali ulangan (Tabel 3). Fekunditas yang dihasilkan

pada pemijahan ini relatif kecil, diduga disebabkan

karena ikan masih dalam kondisi belum stabil karena

baru diadaptasikan dari habitat asalnya ke lingkungan

baru sehingga masih stres. Karena lingkungan yang

baru sehingga napsu makan juga belum optimal. Di

mana menurut Effendie (1997), bahwa fekunditas

secara otomatis berhubungan dengan metabolisme

yang mengadakan reaksi terhadap perubahan

persediaan makanan dan menghasilkan perubahan

dalam pertumbuhan telur yaitu ukuran dan umur telur,

ukuran, dan jumlah telur, atau siklus pemijahan sendiri.

Selain itu, ukuran induk yang relatif kecil dan belum

pernah memijah dapat diduga juga sebagai penyebab

Media Akuakultur Vol. 10 No. 2 Tahun 2015: 71-78

75

Tabel 3. Keragaan induk-induk ikan hias Guppy setelah dipijahkan secara

semi buatan

Table 3. Performance of Guppy fish broodstock after spawned with semiartificial

Pemijahan I

Spawning I

Pemijahan II

Spawning II

Gambar 3. Induk-induk ikan hias Guppy lokal yang digunakan untuk pemijahan I dan II strain

showa X showa

Figure 3. Local fish broodstocks used for spawning I and II showa X showa strain

Tabel 4. Keragaan fekunditas dan bobot telur pada pemijahan semi buatan

Table 4. Performance of fecundity and weight of egg to semi-artificial spawning

jumlah telur yang sedikit tersebut. Kemungkinan induk

yang sama untuk pembenihan selanjutnya diharapkan

menghasilkan telur yang jauh lebih tinggi, karena telah

kondusif dan kebutuhan protein pakan lebih baik.

Karena induk-induk tersebut telah adapted dengan

lingkungan pemeliharaan yang baru, pakan yang

sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan gonad,

sehingga apabila dilakukan pembenihan diharapkan akan

menghasilkan telur-telur yang berkualitas baik. Dengan

demikian, sekalipun indukan lokal dapat menghasilkan

iikan Guppy dengan grade yang lebih tinggi sehingga dapat

bersaing di pasar domestik maupun internasional.

Parameter yang diamati setelah telur menetas adalah

derajat penetasan (HR). Penghitungan HR tersebut

dilakukan secara sampling dengan menggunakan

saringan goyang masing-masing 100 butir dan dilakukan

sebanyak tiga ulangan dan dilakukan setelah satu hari

telur menetas. HR yang diperoleh adalah masing-masing

sekitar 34,33% dan 29,33% dan proses penghitungan HR

tersebut disajikan pada Gambar 6. HR yang diperoleh

dari pemijahan ini juga termasuk kecil. Hal tersebut juga

diduga akibat kondisi induk yang belum stabil, sehingga

memengaruhi kualitas telur-telur yang dihasilkan,

yang akhirnya penetasannya kurang maksimal, dan

Pengembangan budidaya ikan hias Guppy (Cyprinus carpio) lokal ..... (Eni Kusrini)

76

Gambar 4. Penyuntikan induk dengan hormon gonadotropin (kiri: pemijahan I dan

kanan: pemjahan II)

Figure 4. Injecting with gonadotropin hormone (left: spawning I and right: spawning II)

Gambar 5. Kakaban (substrat) pada bak pemijahan untuk menempelnya telur-telur (kiri:

pemijahan I dan kanan: pemjahan II)

Figure 5. Substrat to spawning pond for attachment of eggs (left: spawning I and right: spawning II)

Gambar 6. Penghitungan derajat penetasan yang dilakukan secara sampling

Figure 6. Calculation of hatching rate conducted with sampling

banyak telur-telur yang fertil. Derajat penetasan yang

optimal dalam kondisi lingkungan baik, indukan sehat

dan baik dapat dihasilkan larva di atas 50%. Daya tetas

telur dipengaruhi oleh faktor makanan indukannya.

Pada pemijahan I dan II dilakukan pada kondisi induk

belum adapted secara optimal di lingkungan baru.

Sama halnya dengan kondisi fekunditas yang masih

rendah tersebut. Apalagi belum diketahui sebelumnya

penetasan sebelumnya sebagai perbandingan karena

induk tersebut baru pertama kali memijah dan baru

berumur 1,5-2 tahun.

Larva pasca penetasan dipelihara tetap di dalam

kolam beton (kolam pendederan) selama ± 1 minggu.

Pakan untuk larva tersebut selama masih mempunyai

cadangan makanan kuning telur ditambahkan Artemia

dan diseling dengan Moina sampai larva dipindah

pada kolam pendederan. Pengamatan panjang larva

dilakukan pada saat larva berumur satu hari dengan

menggunakan mikroskop pembesaran 25x. Hasil yang

didapatkan adalah panjang rata-rata 4,8 mm dan lebar

badan 1,2 mm. Performa larva tersebut dapat dilihat

pada Gambar 7.

Media Akuakultur Vol. 10 No. 2 Tahun 2015: 71-78

77

Gambar 7. Keragaan larva ikan Guppy pada pemijahan I dan II umur 1 hari

Figure 7. Performance of Guppy fish larvae at spawning I and II 1 day time

Gambar 8. Keragaan pertumbuhan benih pemijahan I

Figure 8. Performance of spawning I growth seed

Gambar 9. Benih ikan hias Guppy hasil pemijahan I dan II strain showa X showa

Figure 9. Guppy fish seed spawning I and II produced showa X showa strain

Pengembangan budidaya ikan hias Guppy (Cyprinus carpio) lokal ..... (Eni Kusrini)

78

Pendederan

Larva yang telah berumur satu minggu langsung

ditebar pada kolam pendederan yang telah disiapkan.

Pendederan dalam kolam bertujuan untuk membesarkan

benih yang masih berukuran kecil. Pemindahan larva ke

kolam pendederan dilakukan pada pagi hari atau sore

hari untuk menghindari suhu yang terlalu tinggi yang

dapat mematikan benih ikan. Sebelum benih ditebar,

pastikan ketinggian air sudah mencapai 40 cm atau

lebih agar fluktuasi suhu kisarannya tidak terlalu lebar.

Pakan yang diberikan selain pakan alami yang telah

tersedia pada kolam tanah tersebut, juga ditambahkan

dengan cacing sutera. Hal ini dimaksudkan untuk

mengantisipasi apabila pakan alami yang tersedia

di kolam tidak mencukupi untuk kebutuhan larva,

mengingat jumlah larva yang banyak.

Pembesaran

Pembesaran benih ikan hias Guppy dilakukan di

kolam tanah yang lebih besar lagi sekaligus dilakukan

penghitungan ulang untuk mengetahui sintasannya.

Selain itu, dilakukan pengukuran panjang dan bobot

secara acak untuk mengetahui petumbuhannya. Pakan

yang diberikan adalah pelet komersial untuk benih

(apung). Benih yang baru ditebar diberi sedikit pakan

berupa pelet udang hingga umur kurang lebih 30 hari.

Setelah itu, diberi pakan ikan Guppy (PK) komersial yang

berbentuk pelet. Pakan pelet yang biasa digunakan

memiliki kandungan protein kasar 35%, lemak kasar 5%,

serat kasar 3%, abu kasar 12%, kadar air 12%, dan kalsium

2%. Kandungan protein yang tinggi dan penambahan

kalsium pada pakan akan mempercepat pertumbuhan

ikan. Pemberian pakan dilakukan sehari dua kali yaitu

pada pagi hari dan sore hari. Metode pemberian pakan

yaitu ad satiation (pemberian pakan sampai kenyang).

Pertumbuhan benih ikan hias Guppy diketahui dengan

pengukuran panjang dan bobot yang dilakukan sebulan

sekali secara acak sebanyak 50-100 ekor per kolam.

Pada saat dilakukan sampling tersebut sekaligus

dilakukan sortir kualitas benih menurut strain dan pola

warna (pattern). Untuk benih yang tidak ada grade-nya

disebut kropyokan dan biasanya dijual dengan harga

per kilo seperti ikan konsumsi pada umumnya, namun

harganya tetap lebih tinggi dibanding ikan konsumsi.

Selanjutnya dilakukan penjarangan pemeliharaan agar

pertumbuhannya lebih optimal dan grade ikan lebih

cepat diketahui. Penjarangan bertujuan untuk memberi

ruang gerak yang cukup bagi ikan Guppy. Seleksi bertujuan

untuk mendapatkan ikan Guppy berkualitas baik. Keragaan

pertumbuhan pemijahan I dan II rata-rata panjang dan

bobot dapat dilihat pada Gambar 8, sedangkan keadaan

populasi di kolam tanah dapat dilihat pada Gambar 9.

Kondisi benih pada saat ini telah berumur tiga

bulan dengan jumlah individu sebanyak sekitar

1.200.000 dengan bobot rata-rata 23,545 g ± 2,576

dan panjang total 16,855 cm ± 0,693. Anakan yang

didapatkan adalah strain showa, kohaku, shiro, utsuri,

dan kropyokan (pola warna yang tidak jelas). Persentase

masing-masing belum dianalisis deskriptif secara pasti

karena warna belum stabil. Sortir tetap dilakukan

setiap bulan sampai bulan ke-7 untuk mendapatkan

grade yang diharapkan.

KESIMPULAN

Hasil sementara pada penelitian pembenihan

ikan hias Guppy (Cyprinus carpio) untuk beberapa strain

dan metode pemijahan dapat diambil kesimpulan

bahwa pemijahan semi buatan lebih efektif dilakukan

karena dapat meningkatkan produksi terutama derajat

penetasan yang lebih tinggi. Keberhasilan pembenihan

juga sangat dipengaruhi oleh pengelolaan induk yang

baik, manajemen pemberian pakan yang optimal, serta

pengelolaan lingkungan yang lebih terkontrol, sehingga

akan memengaruhi kebugaran induk, kematangan

gonad, dan kualitas telur yang akhirnya dapat

meningkatkan produksi benih secara keseluruhan.

DAFTAR ACUAN

Effendie, M.I. (1997). Metode biologi perikanan.

Yayasan Dewi Sri. Bogor, 163 hlm.

Muhammad, F. (2010). Target ekspor ikan hias di

Indonesia 2010. Bussines News Jakarta, 11 Mei

2010, 1 pp.

Muller, F., Williams, D.W., Konolak, J., Gauvry, L.,

Goldspink, G., Orban, L., & Maclean, N. (1997).

Activator effect of coinjected enhancers on the

muscle-specific expression of promoter in zebrafish

embryos. Mol. Rep. Dev., 47, 404-412.

Manikandavelu, D., Raveneswaran, K., & Sivakumar, T.

(2009). Breeding of Guppy carp (Cyprinus carpio) and

gold fish (Carassius auratus) using Synchromate B.

(GnRh regulator). Tamilnadu J. Veterinary & Animal

Sciences, 5(6), 225-227.

Twigg, D. (2008). Buku pintar Guppy. PT Gramedia. Jakarta,

133 hlm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INDEX GUPPY

Teknik dan Cara Persilangan Guppy

Mengenal Bagimana Ikan Guppy Tidur